Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

7 and 2 hours philoshopy (Filosofi mendaki gunung)

Mendaki gunung lewati lembah... sungai mengalir indah ke samudra.. bersama teman bertualang.... #ost ninja hatori

Haha... well.. I wont talking about that sountrack. I will write about mountain and life. I think many people already think the same like me, it just I want to record it on my blog. Thats why i write it.

I never climb mountains like other climbers. Just a small one, and it already make me feel blessed being born in a very beautiful country. The real climbers always feel addicted to climb higher and higher mountains. I know that feeling. Like a challenge for them.

Its not easy to climb a mountain even climb the easiest one. There are always much challenge and trouble during climbing mountain. Need few days to hike some difficult mountain. A friend who just climb on Semeru mt told me that they need 7 hours to reach the top of mountain and only need 2 hours to going back down.

Layaknya sebuah kehidupan, can you imagine? What do you really want to reach in life? The best goal of your life? You must be have some right? Yeah... like the mountain climbers, they want to reach top of the mountain. To prove people that they can. Ok, dont say to prove to people, just for self proving. "I can get the top of mt". Thats enough for them. In life, there are people who dreams lots. Who struggling hard to reach that dreams. Up and down, hard and difficult, not even easy. Then the right time is coming. The time when you get the dreams, the things you really want it. You are on the top of the mountain of your life. What will you do there?? Protect it! Like the 7 and 2 hours of climbing. Need much more time to get your dream, but need a little time to lose it. If, you dont keep that dream alive and stay in top of your mountain.

When I was on middle high school, clearly remember, I saw a climber, he was taking the same bus with me, at that time I told to myself "why do they have to bring lots of things on their back just for climb a mountain and goin back down with an empty hands, just tired and its tiring I guess". Some people said the same like me. But now I realize that it is for self proving. They just dont want to be like common people. They want more in life. The things that only they know it. And now, I am a part of it. Tiring? Yes.. alot... But remember, Allah akan membayar semuanya sebanding dengan seberapa keras kita berusaha. Allah tahu dan Maha adil.

Comments

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Selamat hari guru

Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem. Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua! Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya.  ...