Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

[Piknik] Makan siang di Pantai Nipah

Berangkat ke Lombok belom sarapan, rekor lho ini. Cuman kopi sama roti aja dikit yang masuk ke perut. Laper lah kita, apalagi kalo bukan seafood yang ada di otak. Ya kan ya dong? Dibawalah kita menuju Pantai Nipah. Semoga nggak salah sebut nama pantai deh
 
Kita beneran makan dipinggir pantai. Bingung mau pesen ikan yang mana, kita akhirnya pesen yang khas sana. Katanya sih ikan baronang. Tapi udah lupa warnanya apa. Pokoknya mateng aja, makan juga. Nggak cuman ikan aja sih, plus sambel terong. hmmmmmm sedap!!! Enak serius. Eh satu lagi, murah! Makan berdua + sepiring lagi buat sopirnya cuman abis 150ribuan.

serius, udah lupa ikannya yang warna apa deh haha

sadap nggak ini??? sadap bener dah

 sambelnya puedessssss

Selagi menunggu, karena emang bakar-bakarnya agak lama, kita nikmatin aja pantainya. HJ yang nggak pernah liat pantai selama 2 tahun akhirnya liat pantai juga. Seger banget. Aku yang nggak sebegitu suka pantai ya menikmati aja wong emang bagus. Bersih. Suka deh kalo pantai bersih gitu. Minimal aku nggak di omelin HJ gara-gara sampah. Penting ini!

So... for now... you can enjoy pictures I took at Nipah beach Lombok. Sorry, there is only one photo of seafood here. But will have more on next next post 😄


 



Next post will be about HJ and the girls 😁

Comments

  1. Rasah pamer panganan lah nek ora ngekei

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ayok sini, tak kasih iki banyak seafood dirumah abis bakar2 semalem

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Fire in the Building

Who would have thought that I  experienced fire in the building.  This is my first time living in an appartement. Of course I never chose appartement when living in Indonesia because it’s a real high risk when the earthquake happen. But here we are placed in an appartement. What got me relieved the first time that we are in the lowest floor so if something happen we will be quickly evacuated.  That’s what I thought.  Until it really happened.  We slept around midnight and abruptly woken up by the noise outside. I thought it was the drunk people just got back from night club or the restaurant next door was doing some deep cleaning. So loud that I had to wake up. My husband peeked outside and immediately said “fire brigade outside, you wait here!” I was just “am I dreaming or what?” I put on clothes, checked outside and saw a few of fire trucks. I checked the other side of the appartement and saw a few of police cars and ambulances.  “Oh no, something serious...