Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2017

Write Down Your Dreams, They Said.

Moscow Yes, all things I have and I do right now is all the things that I have written down on papers, during my sleeps, in my consciousness, in my visions. So let's do that again here.  I have another dream that I really think of. It's the thing I want to do when I have so much money, or enough money, or when money doesn't matter anymore, or who knows!  I wanna build a school for kids who can't afford to go to school. I want them to pay nothing, and I want them to learn the basic things like how to respect others, how to tell people their ideas/opinions, familiarize them with being kind, how to think logically, how to solve problems, etc. All the basic survival things in life.  I think my passion is always in education, but I don't always like to follow the old-school rules. There are so many important things we don't learn at school that I think should be taught there. Once we graduate from school, we usually don't know how to navigate life. Who taught you...

Tentang Istanbul

Sebelum menginjakkan kaki di Istanbul, jelas lah kita napak kaki dulu di bandaranya ya. Soale kita terbang cui, kecuali kalo kita jalur darat dari Siria uhhh. Okay... kali ini saya cuma nulis hal-hal yang tampak mata dan nggak semuanya menyenangkan tentang Istanbul. Kotanya cantik sih, saya akui cantik dan saya suka apalagi sejarahnya. Nah pertama kita napak kaki dulu di bandara ya. Sumpah demi apapun, antrian customnya panjang banget. Mungkin sekali antrian kita ma Eh tapi ada lho yang begitu. sedih liatnya. suk, kita harus menanti ratusan orang didepan kita. Kita 2 kali antri custom sekitar 20 menit. Termasuk leletnya petugas imigrasi cek visa dan paspor kita. Suami sih prosesnya cepet (mungkin karena doi orang EU ya), saya butuh hmmm 3-5 menit ketika pertama kali masuk imigrasi Istanbul. Sampai depan mas loket imigrasi juga deg deg ser, jangan sampe lah suruh balik visa suruh pake VoA bisa nangis ditempat ini. Antrinya panjang bener. Singapura juga rame lho, tapi cepet prose...

Strolling Around Oldtown : Istanbul

Pardon me for silly English   little cafe We both love history, but his knowledge about history much deeper than I have (for sure). We spent our first days by strolling around Oldtown, where Haghia Sophia (Ayasofya), Blue Mosque, Basilica Cistern, Galata tower and another iconic things in Istanbul exist (including those corn sellers. This is what I am going to miss about Istanbul actually).   authentic Istanbul We arrived in Istanbul a day before, at around 7pm I believe, then we walked around to have dinner. That was the first time I ate the corn. I like that kind of corn, and I am too hungry to walk that far from hotel to find a good place to eat (instead, it was a 'zonk'!), so let say this corn is kind of appetizer before dinner (and become our daily snack during the day).     haghia sophia (ayasofya) dari rooftop restoran   blue mosque     First we walk around Column of Constantine and Nourusmaniye mosque. The...

Cerita Marji Tentang Persepolis

  Persepolis (taken from hitchhikershandbook.com ) Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata Iran? Kalau mama papa sih mikirnya Iran negara yang tidak aman. Sesaat setelah terjadi bom di Tehran, kita merencanakan untuk pergi kesana yang ternyata berubah destinasi menjadi Dubai, mereka mikir Iran sedang dalam keadaan darurat teroris. Ya untuk kota-kota penting dan besar yang sering jadi sasaran teror layaknya Jakarta sih masih bisa dimaklumi (karena sejatinya ancaman teroris selalu mengejar kita). Kalau kata suami, Iran itu negaranya cantik. Semacam persuasif bagi saya ya, jadi pengen ke Iran juga (tapi kabarnya urus visanya agak panjang prosesnya sekarang ini). Tiba-tiba saya menemukan buku yang judulnya Persepolis. Dan buku ini adalah one of the best books yang pernah saya baca. Suami aja kaget kok saya bisa nemu buku ini (soale biasanya saya baca buku bagus hasil rekomendasi dia tapi kali ini dapet sendiri). Buku ini adalah salah satu karya cerdas Marjane Satrapi....

Merhaba Istanbul

  Traditional Turkish coffee in an authentic cup and a traditional bread called Simit. Sebenarnya sih udah nulis soal Istanbul, tapi ada di iPad HJ dan lupa belum transfer. Jadi kita re-type aja meskipun feelingnya nggak sama huhu. I was writing about Istanbul when we traveled to Kazbegi. It took so long time and boring because my husband was sitting next to driver, and I sat next to a couple who doesn’t speak English and so proud to speak Russian. So I was the only one who said nothing during the trip. Percuma, Bahasa Inggrisnya adekku yang masih SD aja jauh lebih oke dari mereka. Oke… sebelumnya nggak pernah mikir bakal ke Turki. Tapi karena beberapa pertimbangan, serta ada satu misi penting yaitu ketemu mertua, akhirnya kita (lebih tepatnya, dia) putuskan untuk ketemu di Turki. Karena mertua nggak bisa travel terlalu jauh, dipilihlah Istanbul sebagai titik temu kita berempat. Yang paling jauh ya tentu saja saya. Jauh dan tentunya penuh drama (dramanya nanti ...

Gamarjoba Tbilisi

Karena fotonya masih ada di mamer, jadi skip dulu soal bahasan Ayasofya yang keren itu Menjejakkan kaki di Georgia tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Beruntung sekali paspor hijau ini bisa mendapatkan e-visa dengan mudah untuk menjejakkan kaki di Georgia. Apply evisa untuk Georgia membutuhkan waktu 5 hari pas, via online dengan tarif usd 20,7. Thanks t o bestie who always help me on credit card needed -I dont have CC btw- 9 hari di Istanbul, kita memutuskan untuk terbang menuju Georgia, yang mana katanya si partner itu kotanya bagus banget, dan nggak touristy macem Istanbul. Terakhir kali partner ke Tbilisi sekitar 3 tahun lalu dan ternyata banyak perubahan selama itu. Tapi rada kaget ternyata sekarang banyak yang kesini. Tulisan ini ditulis ketika menanti jam untuk terbang balik ke Istanbul sore ini. Tapi baru tayang beberapa minggu setelah sampai di rumah. Nggak banyak orang tau tentang Georgia. Negara pecahan Uni Soviet ini mengklaim dirinya sebagai the origin countr...