Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
Sebelum menginjakkan kaki di Istanbul, jelas lah kita napak kaki dulu di bandaranya ya. Soale kita terbang cui, kecuali kalo kita jalur darat dari Siria uhhh. Okay... kali ini saya cuma nulis hal-hal yang tampak mata dan nggak semuanya menyenangkan tentang Istanbul. Kotanya cantik sih, saya akui cantik dan saya suka apalagi sejarahnya. Nah pertama kita napak kaki dulu di bandara ya. Sumpah demi apapun, antrian customnya panjang banget. Mungkin sekali antrian kita ma Eh tapi ada lho yang begitu. sedih liatnya. suk, kita harus menanti ratusan orang didepan kita. Kita 2 kali antri custom sekitar 20 menit. Termasuk leletnya petugas imigrasi cek visa dan paspor kita. Suami sih prosesnya cepet (mungkin karena doi orang EU ya), saya butuh hmmm 3-5 menit ketika pertama kali masuk imigrasi Istanbul. Sampai depan mas loket imigrasi juga deg deg ser, jangan sampe lah suruh balik visa suruh pake VoA bisa nangis ditempat ini. Antrinya panjang bener. Singapura juga rame lho, tapi cepet prose...