Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

Senandung Alam Kala Nyepi

Ganesha, my favo dewa. Taken by H.

This year is my first year to experience Nyepi. As we all know, the virus is still going on and we are advised to stay home until further notice. I've been staying home since mid March and doing my work from home. Yes, I am lucky enough to have this chance.

I expected my first Nyepi would be watching Ogoh-ogoh a day before Nyepi but the festival were postponed until August. Yea, so what can we do?

The landlord texted to inform some things related Nyepi, about the do's and dont's. I thought the internet would be turned off but the wifi and my provider didn't turn off the internet. So I was lucky, I can still work and connect to the world lol.


Everything was so quiet. I left my bed at 10 am, took shower, made breakfast then started to read the news and anything to wake my mind up. I started to work a little bit then I heard some noise from the back of the house. I thought people next door were doing something. I walked closer and found out that it was the sound of trees and wind. What a new thing.

When the sun set, it started to get dark. Super dark, really dark that you won't see anything. It felt like seeing something with closed eyes. Bali without nyepi is already dark at night, Bali at night is not my favo. I was inside, did my work. Then my friend texted me, "Checked out the night sky?" OMG yea, I forgot that it had no lights pollution outside. I opened the door, walked a bit to the garden, looked at the sky, and what I did was 😮😮😮😍😍😍😍😍😍😍😍

Sehari setelah Nyepi.

The stars were shining so bright. Not that they usually does not shining bright, but... this is the right moment to enjoy the night sky. I can see the stars, planets even, that clear. The sky was so dark that you don't even want to leave. You wanna stay outdoor and enjoy the night sky. But it was too creepy for me. Apalagi kata orang kalo nyepi tuh leak-leak pada keluar, apa ya nggak serem bayanginnya.

Tabanan

Then I remembered that I put "Enjoying Nyepi in Bali" in my bucket list. I did not even know why I did that. Well, yea to experience new thing I believe. But it was really worth it. Spending Nyepi in Bali is definitely worth it. If you love stargazing, make sure you spend Nyepi in Bali next time. I experienced a really wonderful Nyepi here. Like you connect with the nature. It's amazing. I can still feel the butterflies in my belly thinking about Nyepi 😍

Anyway, one of my bucket list ticked, so 😊 But sorry I can't show you the pictures of the night sky. I have no reliable cam for that haha.

How's your day-X self isolation?

Comments

  1. Beb bali sepi yah sekarang? Katanya hotel-hotel pada gak laku. Lah kasian amat yang kerja di hotel. Pasti pada di rumahin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepi bepppppp. Hotel2 pada tutup semua, nggak yg gede yg kecil pada tutup. pada banting setir semua dah. Toko2 resto2 kafe2 behhh dimana-mana biasanya liat manusia skrg kosong mlompongggg. Bali bener-bener "mati" nggak ada bule yg bs diliat huhuuu

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Selamat hari guru

Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem. Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua! Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya.  ...