Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit. Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya. Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego. Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...
This is an easy post about multicultural marriage (or relationship). Take it as entertainment if you are in the same situation as ours 😆 Differences always fascinate me. Then I am married to someone from a different culture. It's challenging but also fun at the same time, here's why: One becomes grammar nazi and one becomes grammar police. I can say that he is a kind of polyglot and I speak 4 languages daily (most Indonesians are bilingual already 😉). But we talk to each other in English because my Dutch is super broken, his Bahasa Indonesia is much better than my Dutch but we usually use it for ordering foods in when we are in Indonesia only. So as a fluent English speaker, he always corrects me when I got it wrong. That's totally okay. Only it is not that okay when he did it during the fight 😂 Like how could you do that during the fight? Though I sometimes correct his Bahasa Indonesia when he tries to talk in Bahasa here, ordering something or trying to impress local...